Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. Mereka saling menjatuhkan. Kelompok yang satu mencela dan mendiskreditkan kelompok yang lain. Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini tidaklah seratus persen benar. Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di dalam pandangan masyarakat. Read the rest of this entry »
Rumah Impian : Semangat!
July 13, 2009It’s no matter possible or not
I do because I want
I’ve decided
I don’t care if I die fighting for it
do you know?
In this world we live in…
There are swordsmen who can cut nothing.
However,those same swordsmen can also
Cut steel or anything else they wish.
All with the same katana.
The strongest blade is one which has the power
To protect what you wish to protect
And to cut what you wish to cut
A sword that harms everything it touches is
to me..
Not a sword at all
it’s not a legend if it have been proven
am i right?
Islamphobia, Tragedi Di Jerman
July 10, 2009Sebuah kasus Islamophobia mengguncang Jerman. Seorang wanita muslim ditikam hingga tewas di dalam ruang pengadilan Dresden. Tragedi ini menyulut berbagai protes.
Tragedi pada 1 Juli 2009 itu begitu tragis. Marwa El Sherbini (32) dan suaminya sedang menggugat Alexander W (28) di Pengadilan Dresden atas penghinaan yang bersifat rasis. Saat Marwa selesai membaca pembelaan diri, Alexander langsung kalap dan tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau.
Perempuan berjilbab yang sedang mengandung itu ditikam 18 kali di depan hidung hakim. Sang suami mencoba melindungi dan ikut ditikam. Di tengah suasana kacau, polisi pun datang. Namun yang mengherankan, polisi malah menembak kaki sang suami. Marwa tewas dan suaminya dilarikan ke rumah sakit. Alexander digelandang ke kantor polisi.
Apa penyulut tragedi yang menimpa pasangan asal Mesir ini? Seperti dilansir Deutche Welle, Kamis (9/7/2009), suami Marwa adalah mahasiswa program doktor di Dresden, Marwa sendiri adalah seorang apoteker di kota yang sama. Tragedi bermula dari penghinaan bernada rasis oleh Alexander W, warga negara Jerman keturunan Rusia yang sedang menganggur.
Pada Agustus 2008, Marwa sedang bermain di taman bersama putranya, Mustafa (3). Alexander dan keponakannya juga sedang bermain ayunan di tempat yang sama. Saat Marwa ingin meminjam ayunan untuk Mustafa, yang didapatkannya adalah penghinaan.
“Pelacur (Schlampe)! Teroris (Teroristin)!“ hardik Alexander saat itu.
Marwa yang tersinggung, bersama suaminya kemudian menuntut Alexander di Pengadilan Dresden. Hakim memutuskan Alex harus membayar denda 780 Euro. Namun sidang pada 1 Juli 2009 lalu itu berakhir dengan penuh darah.
Tragedi ini sangat menggegerkan Jerman. Menteri Hukum negara bagian Sachen, Macken Geert Roth, datang ke lokasi pada hari yang sama.
“Kami sangat syok dan sangat berduka cita kepada pihak keluarga korban,“ ujar Roth seperti dilansir Stern.
Protes lebih besar datang dari seluruh komunitas muslim di Jerman, yang menilai telah terjadi tragedi akibat Islamophobia. Mereka menuntut adanya penyataan sikap tidak hanya dari pejabat negara bagian, melainkan dari pemerintah Federal. Sementara, di berbagai masjid di Jerman diserukan untuk melakukan salat gaib.
http://www.detiknews.com/read/2009/07/10/132357/1162677/10/islamophobia-guncang-jerman
catatan : Adapun Shalat Gaib, maka hanya dilakukan jika seorang muslim meninggal dunia dan tak ada yang menshalatkan jenazahnya. jika sudah ada yang menshalatkan, maka tidak disyariatkan melakukan shalat ghaib.
jika seandainya shalat ghaib disyariatkan sebagaimana yang dilakukan sebagian orang pada kisah di atas, maka kenapa ketika para sahabat meninggal, tidak dilakukan shalat ghaib?
Refleksi: Notasi Sepi
July 6, 2009Notasi sepi
Pernah ada rasa yang sayupsayup dalam kabut. Yang berdentang bersama detak jam, menanam rindu pada petak asa kerontang. Mungkin rintik gerimis atau tangis netes pada luka. maka sepanjang jalanan lengang di simpang kenangan kuukir graffiti mimpimimpi maupun sakit pada sunyi tersembunyiLalu aku begitu lelah. Memaknai ribuan darah dan rasa tenggelam dalam salah. Sebab sajaksajak lama terakrabi, memeram ingin yang tercabikcabik meronta ngeri. Bercerita pada langit, pada sepi yang memerikan ingatan tentang; dering telepon, catatan harian, lalu perih dan rintih yang paling
Karena musim membenamkan kepalaku pada tembok sementara sisa suara berlalu terlalu siasia, lewat udara,
: sepitakpernahmati
Seperti puisi
Seperti puisi. Ya, sepi tak pernah mati. Meskipun Rendra pernah menghujat para penyair yang berkubang dalam tema sepi sebagai ‘penyair salon’; namun bagiku, sepi adalah dunia tersendiri. Yang indah, tak pernah mati meski kadang pergi. Inilah dunia yang pernah membuatku terlena. Menghabiskan berlembar-lembar waktu, dan menangisi ‘kenapa’.
dalam ’sajak sebatang lisong’, Rendra menggugat penyair yang membenamkan diri dalam dunia sepi, dunia yang ‘bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya’. mungkin Rendra benar. mungkin para penyair salon itu pun benar. dan bukankah sepi itu, kadang tercipta dari ketidakadilan?
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala merekamatahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikanaku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupandelapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunandan di langit
para teknokrat berkata :bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimporgunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilamaku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenianbunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyatainilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupanRENDRA
Rumah Impian : Sebuah Harapan
July 4, 2009
Sebuah rumah. Ya, sebuah rumah sederhana. Dari kayu mungkin. Dengan alam yang masih asri disekitarnya. Mungkin gambarannya seperti disamping ini. gambar ini saya ambil dari http://www.gebyok.com/. keren ya. andai punya rumah seperti ini, di lingkungan yang masih asri, bebas polusi. alangkah senangnya…. yup, mungkin inilah rumah impianku…
Refleksi : Sampah segala Sumpah
July 2, 2009maka ketika kuucapkan selamat tinggal, padamu kutanggalkan helaihelai rambut yang memutih. bukan melati, bukan arca malaikat tanpa hati atau kecupan sebilah belati. akulah manusia.
Sementara ditiaptiap tembok persimpangan, graffiti nama kita terukir begitu saja. entah siapa yang teriak, tibatiba serentak semua bergejolak. meski akhirnya cuma kita yang setia pada derik gerobak. sampah segala sumpah.
kemana lagi melarikan mimpi. mata, hari, hati terlalu gersang. tongtong sampah penuh deretan usang catatan pelajaran anakanak kecil bertema keadilan. Entah apa yang makna. Toh buku harian selalu sejelaga tungku batu bara. Mungkin kita yang masih enggan mengerti, menggali airmata di padang kurusetra masih terlalu tanpaarti.
hanya andai mungkin masih kita punya. tentang esok, apalagi bulan depan, sungguh aku tak tahu. Hari ini lilin belum habis membakar diri. Nanti malam, kita bangun lagi mimpimimpi. Sambil menghancurkan mimpi yang kemarin lusa tak habis kita tangisi.
tapi……. aku pergi dulu. Jangan menunggudanmencari bila senja aku tak kembali. tidur, dan jelmakan mimpi kita esok hari. atau mungkin seabad lagi!
puisi ini aku tulis saat aku masih SMA. saat itu, entah bagaimana, ada energi yang meluap2 dan aq menghabiskan waktunya menulis sampah-sampah semacam ini. Sampah segala Sumpah.
tentu saja ketika aku menulis judul tersebut, aku tak bermaksud menggeneralisir semua sumpah. seperti kata orang bijak : ’saat aku menulis puisi ini, hanya aku dan Tuhan yang tahu maknanya; sekarang, hanya Tuhan yang tahu…’
ya, aku sudah lupa kenapa aku menulis ini. hanya saja, ketika media massa ramai memberitakan kampanye, tentunya dg janji paling mesti, maka aq tergerak mem-publish puisi ini.
entahlah, semoga puisi itu hanya sekedar ironi dan angan retak semata.
Posted by bayu200687
Posted by bayu200687
Posted by bayu200687 


