
Kau tahu Sahabat? Aku tak menyangka sama sekali. Aku pikir kita mempunyai kesamaan. Kita samasama senang duduk di awing-awang. Merajut utopia. Kita hidup di bumi yang ideal(isme) tak pernah pudar meski tiap saat diterpa panas dan hujan.
Ketika aku bicara tentang idealisme, tentunya kau mengerti. Semua itu adalah utopia. Namun siapa atau apa yang membuatmu percaya bahwa dalam utopia itu senantiasa ada cahaya?
Tak kuingkari, bahwa hidup yang kita pilih, jalan yang kita tempuh, selaksa penuh duri. Seperti menggenggam bara api. Bahkan menggigit akar pohon pun mesti kita jalani ketika manusia makin seperti laron kasmaran, lalu mati. Terpanggang tinggal tulang.
aku masih ingat ketika kita bercakap tentang bidadari itu. Apa kau masih ingat Sahabatku? Tidaklah bidadari menemani kecuali kau memang pantas untuknya. Dan engkau pun tahu, bahwa singa tak akan mendekati air yang diminum anjing.
Dulu engkau mengadu, tentang dia dan alunan setan itu. Dulu engkau tak mau, datang ke tempatku beriringan dengan api dan pilu. Tapi apa sekarang? Tidakkah kau mengerti? Tiap jalan selalu ada rintangan, tiap citacita ada anak tangga.
Adakah kau ingat?
” Wanita – wanita yang keji adalah untuk laki – laki yang keji dan laki – laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Dan wanita – wanita yang baik adalah untuk laki – laki yang baik, dan laki – laki yang baik adalah untuk wanita – wanita yang baik (pula).” (Q.S. An Nuur : 26)
dimanakah gerangan bidadari yang pernah kita bicarakan? adakah ia berada di taman itu dan (masih) menunggu?




June 25, 2009 at 9:53 am |
curhat ya gih?… ck,ck,ck,…
June 25, 2009 at 10:02 am |
pembelaan diri! sungguh tak terpuji! (apaaaa coba???)
June 25, 2009 at 10:06 am |
ga jelaaasss!!!
[mulai spamming neeh!!!]
June 25, 2009 at 4:02 pm |
Salam
Gak ada utopia jika nalar dan iman jadi cahayanya…eh ngomong2 susah ya jadi bidadari, malah dengan sepenuh hati mengatakan perkataan jadilah diri sendiri adalah benteng yang ampuh, pdhl di akhir waktu ada bisikan, is that me? *curcol*
*nyepam mode*
June 26, 2009 at 12:37 am |
utopia sendiri bukanlah suatu kemustahilan. hanya saja, ia seperti seberkas cahaya yang menerobos di celah dinding bambu. indah bukan jika negeri ini memiliki cahaya seperti itu? yah, minimal terasa menghangatkan kalbu saat pagi semakin dingin..
June 27, 2009 at 10:16 am |
Hanya saja aku mulai percaya bahwa ada cahaya yang kutemukan ketika duduk bercengkrama bersama disana, dan bukankah kita juga berusaha menjadi cahaya agar tak pekat selamanya…dunia
Dan ohh iyah, utopia memang bukan suatu kemustahilan tapi agak sulit terjadi..,itukan yang jadi motivasi kita?saat kita sudah yakin akan janjiNya dan jalan yang ditunjukanNya
June 27, 2009 at 10:18 am |
haiyah salah tulis..T_T
memang bukan brader maksudku..hiks hiks tolong dibenerin..maap nyepam
June 29, 2009 at 12:47 am |
dah dibenerin sist…
June 30, 2009 at 1:35 am |
btw utopia apaan seeh bayuu??
**ndan9erti neeh…
huum menjadi bidadari itu sulit *stuja with nenyok
July 3, 2009 at 6:40 pm |
hmm…
jadi tau Utopia.
kirain itu suatu negeri.
eh, itu kan Ethiopia
August 18, 2009 at 5:00 am |
merdeka…. penuh euforia..
beda ya sama utopia…?
August 31, 2009 at 7:13 am |
ketika utopia hanya menjadi sebuah utopia, terasa menggelapkan kalbu saat malam semakin gelap…
ketika bidadari hanya mnjadi sebuah utopia,di taman yang indah penuh canda tawa, hanya semakin mmbuat kalbu terasa pilu…