Jadi kaya…
Aku ga pernah berpikir untuk menjadi kaya. Lebih nikmat hidup sederhana. Apa adanya. Pernah suatu ketika aku pergi ke toko furniture untuk melihat2 spring bed. Naek sepeda jengki, pake kaos dan sirwal, pake sandal jepit. Sepertinya sang penjual agak ragu juga ketika menerima aku sebagai calon pembeli. hehe
Sampai sekarang aku ga punya televisi. Aku pikir, memiliki televise itu merupakan hak, dan bukan kewajiban. So, klo memiliki adalah hak, berarti tidak memiliki adalah hak juga dunk. Dan aku memilih untuk tidak memiliki. (golput mode : ON).
Menjadi kaya dan terkenal.
Terlalu berat memikirkan hal-hal sebelum dan setelah menjadi kaya.
Sebelum kaya…
Mungkin aku harus sekolah. Menumpuk ijasah demi ijasah. Dan menghabiskan waktu membaca ini itu. Belajar begini begitu. Dan kebanyakan adalah nothing!. Aku sudah pernah menulis tentang pemikiranku di sini. Tepatnya di poin no. 9. aneh memang. Ketakutan yang ga beralasan mungkin Tapi aku menerima keanehan pemikiran itu sebagai bagian dari diriku.
Pernah ada teman yang sharing. Katanya, klo kita belajar dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, nanti kita bisa mengatur pekerjaan kita. Bukan pekerjaan yang mengatur kita. Dan yang terjadi padanya, jauh panggang dari api… Aku bilang dalam hati : NATO. semoga Alloh memberinya keluasan waktu untuk shalat…
Setelah kaya…
Aku mungkin akan kehilangan..sesuatu…Entah apa itu. Hanya saja aku merasa akan kehilangan. Sesuatu. Aku ga bisa jelasin secara terperinci..
Waktuku terlalu sedikit. Terlalu sedikit… tapi lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Insya Alloh.
Apakah setiap muslim harus kaya? Aku kira tidak. Setiap manusia menjalani ujiannya sendiri-sendiri. Ada yang diuji dengan kekayaan harta, adapula yang diuji dengan kafakiran. Dan bukankah bersyukur dan bersabar adalah sesuatu yang mengagumkan? Bukankah seseorang tak akan menemui ajal sebelum disempurnakan rezekinya? Dan bukankah burung2 hatta binatang yang melata di bumi, telah dijamin kehidupannya?
Dan berbagi adalah suatu hal yang indah. Senang sekali membaca postingan mba rindu. Duh, betapa ada dunia yang jauh lebih sunyi dibanding dunia kita. Atau tulisan mba Rara di sini dan di sini. Ah, ternyata hal2 kecil bisa berarti begitu besar ya..
Berbahagialah, sebab orang2 kaya telah dilebihkan oleh Alloh dalam hal harta; yang mana mereka dapat melakukan apa yang orang miskin lakukan, namun orang miskin tak dapat melakukan apa yang kalian lakukan. Dan sebaik2 manusia adalah yang paling bertakwa.
Abu Hurairah rodiyallohu anhu berkata: Bahwasanya para fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah shallallohu alaihi wa salam: Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala dan tingkat-tingkat yang tinggi serta kesenangan yang abadi. Nabi saw bertanya: Mengapa demikian? Jawab mereka: Mereka sembahyang sebagaimana kami, dan puasa sebagaimana kami, dan mereka bersedekah sedang kami tidak dapat bersedekah, dan mereka memerdekakan budak, sedang kami tidak dapat memerdekakan budak. Rasulullah bersabda: Sukakah saya ajarkan kepada kamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka, dan tiada seseorang yang lebih utama dari kami kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu? Jawab mereka: Baiklah ya Rasulullah. Bersabda Nabi: Membaca Tasbih dan takbir dan tahmid tiap selesai sembahyang 33 kali. Kemudian sesudah itu para fakir miskin itu kembali mnegeluh kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya, mendengar perbuatan kami, maka mereka berbuat sebagaimana perbuatan kami. Maka sabda Nabi: Itulah kurnia Allah yang diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. HR. Muslim : 936
Aku ingat, syaikh Al Albani pernah berkata “Yaa ikwan wallaahi inni atamanna an ashbaha milyuuniiran, hatta ukhrijaaluluufa min amstali hadzihi almar’a min kuyuudi arriba”
“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku berangan-angan menjadi seorang “milyuner” hingga dapat melepaskan ribuan muslim yang senasib dengan wanita ini dari jeratan riba”.
Adakah aku akan sedemikian dermawan ketika Alloh memberikan padaku keluasan rezeki? Ya Alloh, aku berlindung padaMu dari sifat kikir dan bakhil dan aku berlindung padaMu dari kefakiran…
menjadi kaya…
tidakkah lebih baik menjadi bahagia saja…?




October 15, 2008 at 9:56 pm |
mas Bayu…jadi orang kaya malah ribet….bingung mikir ini itu…Kalau ibu pilih di beri yang manfaat,cukup. itu saja… Kaya hati…akan lebih membahagiakan.
Duh…postingan nya bagus bagus..anak anak muda saat ini wawasannya luas,Ibu banyak belajar…saya link ya ,Maturnuwun
October 16, 2008 at 12:40 am |
Subhanallah, tulisan yang bagus sekali…
Kekayaan bukan hanya dari segi material saja, tapi juga bisa hati dan rohaninya.
Sama seperti antum, saya juga tidak menargetkan untul menjadi kaya.
Karena Lady Kaya sekarang masih di Syrup Village, menunggu Usopp pulang kembali ke kampung halamannya dengan selamat
October 17, 2008 at 4:52 am |
Salam
gw pengen kok jadi orang kaya yang bahagia, mungkin dengan menjadi kaya bisa memperbanyak sedekah
October 17, 2008 at 11:30 am |
Assalaamu’alaykum..
tertarik dg tulisannya, apalagi yg ini:
Mungkin aku harus sekolah. Menumpuk ijasah demi ijasah. Dan menghabiskan waktu membaca ini itu. Belajar begini begitu. Dan kebanyakan adalah nothing!. Aku sudah pernah menulis tentang pemikiranku di sini. Tepatnya di poin no. 9. aneh memang. Ketakutan yang ga beralasan mungkin Tapi aku menerima keanehan pemikiran itu sebagai bagian dari diriku.
sebagian keanehan tersebut pernah saya rasakan.. btw, saya sekolah bukan u menjadi kaya dan sebagian org yg saya lihat juga sekolah bukan u menjadi kaya.. mereka ingin berguna begi org lain semampu mreka semaksimal mgkn..alhamdulillah saya rasa bukan sekedar omongan..karena mereka memilih pekerjaan yg lebih berguna buat org lain drpd pekerjaan yg dpt menumpuk uang
~smoga qt menjadi org2 yg qona’ah
October 17, 2008 at 11:32 am |
Assalaamu’alaykum..
tertarik dg tulisannya, apalagi yg ini:
Mungkin aku harus sekolah. Menumpuk ijasah demi ijasah. Dan menghabiskan waktu membaca ini itu. Belajar begini begitu. Dan kebanyakan adalah nothing!. Aku sudah pernah menulis tentang pemikiranku di sini. Tepatnya di poin no. 9. aneh memang. Ketakutan yang ga beralasan mungkin Tapi aku menerima keanehan pemikiran itu sebagai bagian dari diriku.
sebagian keanehan tersebut pernah saya rasakan.. btw, saya sekolah bukan u menjadi kaya dan sebagian org yg saya lihat juga sekolah bukan u menjadi kaya.. mereka ingin berguna begi org lain semampu mreka semaksimal mgkn..
~smoga qt menjadi org2 yg qona’ah
October 18, 2008 at 4:20 am |
Menjadi kaya bukanlah suatu keharusan…. , kekayaan merupakan penunjang amal ibadah kita karena kita akan bisa senantiasa beramal sehingga sanggup mengangkat derajat saudara kita yang membutuhkan pertolongan karena sesungguhnya tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah…
Tapi Yang benar2 harus kita miliki adalah kekayaan jiwa dan hati…
October 20, 2008 at 7:03 am |
maklum ada kesalahan teknis, lain kali diapprove satu aja, akh
October 23, 2008 at 9:18 am |
sy setuju klo menjadi bahagia di hati itu lebih baik dari menjadi kaya. bahagia bisa membawa ‘kaya’ walau bukan dalam bentuk materi tapi yang namanya kaya materi itu apa bisa membawa bahagia di hati, damai di jiwa dan tenang di dada?