Pulang kerja. Ada orang gila di jalan. Iseng ada yang bertanya ‘kenapa ya sekarang banyak orang gila?’. Segera saja satu frase terlintas dalam benakku. ‘kufur nikmat’. Tidak mensyukuri nikmat. Mudahnya bilang seperti itu dan alangkah seringnya aku lupa!
Sudahkah aku bersyukur?
Sedikit mungkin. Tapi sepertinya nikmat Alloh terlalu banyak. Hampir2 aku tak mampu mensyukurinya. Kecuali sekedar mengucap Alhamdulillah sebanyak 33 kali tiap habis shalat. Itupun seringkali terlewat.
Maka nikmat Robbmu yang manakah yang kamu dustakan…?
-trenyuh banget tiap kali baca ayat ini…-
~ _ * _ ~
Pernah disodori seperti pertanyaan di atas oleh seorang anak kecil? Misalnya ‘Ayah kenapa sekarang banyak orang gila ya..?’. betapa susahnya menjelaskan makna bersyukur pada anak kecil. Karena ilmu itu dicari, bukan ditransfer begitu saja macam pulsa.
Tapi ternyata temanku punya jawaban sederhana untuk pertanyaan seperti itu. Ketika ia ditanya oleh anaknya, maka ia menjawab ‘karena mereka ga shalat Nak’.
Wow, betapa sederhananya jawaban itu dan betapa mengagumkannya pengaruhnya. IMO
Seringkali aku lupa, atau pura2 lupa, atau tak peduli, -dan semuanya sama pahitnya!-, antara memahami dan membuat orang lain paham adalah sesuatu yang jauh berbeda
~ _ * _ ~
Dalam sebuah ceramah/nasehat rutin sehabis shalat tarawih, kenapa mesti antara shalat tarawih dan witir sih? si ustadz bercerita tentang seorang anak yang bertanya pada bapaknya (bimbo mode : ON).
Anak : Ayah, adakah orang yang dapat melakukan kebaikan dan menghindarkan diri dari berbuat dosa selama satu tahun penuh?.
Ayah : ‘tidak’
Anak : lalu adakah yang dapat melakukan itu selama satu bulan penuh?
Ayah : (berpikir sejenak) ‘tidak’
Anak : bagaimana kalau satu minggu?
Ayah : (berpikir lebih lama) ‘tidak’
Anak : klo satu hari?
Ayah : (berpikir lebih lama lagi) ‘sepertinya juga tidak Nak’
Anak : klo satu jam?
Ayah : (berpikir jauh lebih lama) ‘mungkin…’
Anak : ‘Ayah, bagaimana klo kita melakukannya selama satu jam itu, lalu kita jaga amalan itu satu jam berikutnya, kemudian satu jam berikutnya, dan seterusnya…’
Catatan :
kisah ini tidak saya ketahui benar atau tidak. Namun ada ibroh yang bisa kita ambil dari kisah itu. Wallohu a’lam
dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu sehat dan waktu luang
sudahkah kita mensyukurinya dan berbuat amalan yang bermanfaat dengan dua nikmat itu…?
~ _ * _ ~
digelitik oleh sebuah pertanyaan ‘Ramadhan tahun depan bisa ga ya buka puasa dan sahur ma istri…?
aku teringat bahwa do’a orang yang berpuasa insyaAlloh terkabul. Maka aku berdo’a padaNya :
“Ya Alloh, aku memohon padamu agar bisa menyambut ramadhan berikutnya dengan seorang istri disisiku…Ya Alloh, kabulkanlah doaku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan Do’a”
~ _ * _ ~
Susahnya membaca Al Qur’an dengan tartil! Aku pikir bacaanku dah lumayan. Tapi ketika muroja’ah ma ustadz, wekz, ternyata masih banyak yang salah. Tapi Alhamdulillah, dengan begitu, makin aku sadar bahwa ilmuku belum seberapa. Masih banyak yang perlu dipelajari. Malah kemudian jadi lebih semangat untuk belajar. Bahkan ada wacana untuk mengadakan kajian bahasa arab secara rutin. Ya minimal agar mengerti sedikit2 bila membaca al qur’an dan hadist.
Ya Alloh, tambahkanlah ilmu padaku dan rizkikanlah padaku kepahaman….amin
~ _ * _ ~
Pertanyaan belum terjawab
Ada sebuah organisasi yang mengumpulkan dana dari anggotanya. Tujuan didirikan organisasi itu adalah untuk kegiatan social. Dana yang terkumpul ada yang benar2 suci (halah), namun kebanyakan adalah harta syubhat. Anggota organisasi berkomitmen untuk tidak menggunakan dana itu untuk kepentingan pribadi, bahkan untuk transport ataupun konsumsi ketika mereka mengadakan suatu kegiatan.
Kemarin sudah diadakan sebuah kegiatan social berupa bakti social di sebuah SD. Kemudian muncul wacana untuk mengadakan buka bersama anak yatim. Namun ada masalah. Yaitu karena dana itu sebagiannya syubhat, maka bolehkah jika dana tersebut untuk membeli makanan untuk anak yatim/kaum dhuafa? Atau harus berupa barang non konsumsi?
Mohon bantuannya…





September 26, 2008 at 3:58 pm |
Syubhatnya apa siy bro? Riba ya?
October 16, 2008 at 1:29 pm |
Tuhan pasti sudah punya garis. bagaimana dunia ini dari awal sampai habis. hanya kita ngga tau teknis. bagaimana Sang Sutradara memerankan kita sebagai artis. di panggung dunia yang fana dan narsis.
sampai saya bikin artikel walaupun bukan seorang analis… mampir dan kasih komentar ya, plis…
http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/16/this-is-the-american-crisis-untuk-indonesia-menangis/