Fiuh…bicara tentang hal seperti ini…kadang terasa memalukan; namun tetap saja sayang untuk dibuang.

Mungkin yang tersisa dari masa-masa seperti itu akan lenyap begitu saja; menyublim bersama waktu. Tapi bias saja seseorang lebih memilih untuk menympannya rapat2 dalam album perjalanannya, dan kelak…mungkin sedikit bernostalgia…
He-eh… jika saja aku (masih) seperti saat itu, mungkin tiap saat hanya ku lalui dengan menulis puisi.
Andai mampu
Kan kupinta mimpi angin malam
Mengantarkan sepotong rindu
Agar esok engkau sudi
Menemani sepi hari tanpamu
Hingga usai sudah
Senandung kerinduan
Dan bait2 penantian
Yang tak pernah berhenti tercipta
Karena ketiadaanmu
Masalahnya bukan pada berapa banyak kesedihan dan penyesalan yang kau alami dari sebuah kehilangan. Tapi bagaimana kamu bias bertahan dan menjadi lebih baik. Seperti seringkali aku katakan ‘Jangan mengorbankan sesuatupun untuk perang yang tak mungkin kau menangkan.’
Yeah, bukankah kesedihan dan penyesalan itu (selalu) adalah sebuah prasasti waktu untuk sebuah kehilangan. Maka berjalanlah ke arah timur maupun barat. Niscaya tiap jengkal tanah yang kau pijak tak lain dan tak bukan adalah prasasti waktu jua yang di tinggalkan orangorang pada jalannya masing2.
21 August ‘08




June 17, 2009 at 5:18 pm |
Dl ada yang b’kta padaku ttg parkit yg memadamkan api dg paruh kecilny,sa’at dtanya dy jwb “setidaknya aku telah berbuat sesuatu”
Perang yg tak dimenangkankah?
*betanya tanya nymbung orah yoh?*