إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله e وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا وبعد،،
Ishbirii ya Ukhti….
Kadangkala atau bahkan seringkali kita dibuat terperangah, kagum, takjub, dan tak mengerti oleh kenyataan yang terpampang berkelebat begitu cepat di depan mata kita. Entah itu sesuatu yang membuat hati kita melayang ke langit biru, ataupun semacam haru yang membuat kita tersedu.
Allah Ta’ala berfirman :
ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS.Ath-Tholaq : 2-3)
Ishbirii ya Ukhti….
Mungkin hanya frasa itu yang saat ini bisa aku katakan padamu. Sebab jalan di ujung itu tiba-tiba membuat aku mengerti. Ada persimpangan yang kadang mesti kita pilih meski tak kita ingini.
Sesungguhnya sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Dan hanya pada Allohlah kita bertawakal.
Alloh ’Azza wa Jalla berfirman :
يُسْرًا الْعُسْرِ مَعَ إِنَّ
”sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(Q.S Alam Nasyroh : 6)
Alloh Ta’ala berfirman :
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (QS.An-Naml : 62).
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Ali Imron : 139)
Maka kita dihadapkan pada sebuah realita, bahwasanya tak semua orang mampu mengerti kita.
Tak ingin ku pungkiri sedikitpun. Sejak aku meminangmu, secepatnya aku ingin menikahimu. Dan aku yakin bahwa janji Alloh itu pasti benar. Tiga orang yang pasti mendapat pertolongan dariNya; salah satunya adalah pemuda yang berkeinginan untuk menikah demi menjaga kehormatan dirinya.
Bayangkan, separuh agama yang dikaruniakan Alloh pada hambaNya melalui wanita sholihah telah berada di depan mata. Maka siapa pula orang yang mau merugikan dirinya sendiri?
Dan di kehidupan dunia ini, apalagi perhiasan yang lebih utama dari seorang wanita sholihah, yang mampu mendukung suaminya menuju rumah kesudahan yang paling baik?
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
الدُنيَا كُلُّهَا مَتَاعٌ وَخَيرُ مَتَاعِ الدُنيَا المَرأَةُ الصَالِحَةُ
“Dunia ini semuanya adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah“ (HR.Muslim).
Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda :
“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)
فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Now how excellent the final home….(Q.S Ar Ra’d : 24)
Dan kelak di surgaMu kita bertemu; begitu katamu.
Dan waktupun bergulir dan mengalir begitu indahnya sebagai ciptaanNya.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqon : 74).
Ya…begitulah
Ketika aku paparkan tentang kita pada Ayah dan Bunda, sungguh, mereka tersenyum manis padaku. Namun tetap saja mereka tak dapat menyembunyikan keterkejutan hati mereka. Mereka seolah tak menyadari bahwa anaknya telah tumbuh dewasa dalam waktu yang begitu cepatnya.
Padahal seolah baru kemarin mereka memberi nasihat pada anaknya, ”Anakku, jadilah anak yang baik. Anak yang berbakti pada kedua orang tua.”
Duhai Bunda, duhai Ayah…..
Terimakasih atas semua kasih sayang yang kalian curahkan padaku. Dengan segala keterbatasan ruang dan waktu, kalian telah mendidikku, mengasuhku, dan membimbingku agar aku dapat memperoleh yang terbaik untuk diriku. Bersusah payah dan berpeluh, namun hampir tak pernah berkeluh kesah dan mengeluh.
Semoga Alloh menyayangi kalian sebagaimana kalian menyayangiku sewaktu kecil dulu.
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”(Q.S Al Israa’ : 24)
الْحِسَابُ يَقُومُ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلِوَالِدَيَّ لِي اغْفِرْ رَبَّنَا
”Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”(Q.S Ibrohim : 41)
Dan lihatlah wahai Bunda, wahai Ayah,
Hasil didikan kalian selama ini.
Anakmu sudah mampu bicara meski terbata-bata
Sudah mampu berdiri, berjalan dan berlari meski kadang terjatuh dan mengeluh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
يَا مَعشَرَ الشَبَابِ مَن استَطاعَ مِنكُم البَاءَة فَليَتَزَوَّج فَإِنَّه أَغَضُّ لَلبَصَرِ وأَحصَنُ لِلفَرجِ وَمَن لَم يَستَطِع فَعَلَيهِ بِالصَومِ فَإِنَّه لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk menikah maka menikahlah, karena dengan menikah (engkau) lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya” (HR.Bukhori dan Muslim).
Dan anakmu kini datang pada kalian. Dengan segala keterbatasanku, ingin ku tunjukkan baktiku pada Bunda dan Ayah. Kubawakan seorang calon istri yang sholihah. Yang mengerti akan hak dan kewajibannya. Yang kunikahi karena agamanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اللَّهُ حَفِظَ بِمَا لِلْغَيْبِ حَافِظَاتٌ قَانِتَاتٌ فَالصَّالِحَاتُ
“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda :
تُنكَحُ المَرأَةُ لأَربَعٍ لِمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَدِينِهَا فَاظفَر بِذَات الدِينِ تَرِبَت يَدَاكَ
“Perempuan itu dinikahi karena 4 hal : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka carilah yang agamanya baik maka engkau akan beruntung “ (HR.Bukhori dan Muslim).
Duhai Bunda…..
Duhai Ayah…..
Inilah seorang istri dimana Alloh menjadikan hatiku cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Seorang Istri yang ia adalah sebaik-baik perbendaharaan seorang laki-laki.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya3, bila diperintah4 akan mentaatinya5, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu. Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu.” (‘Aunul Ma‘bud, 5/57)
Aku tahu kalian mungkin merasa kehilangan seorang yang begitu kalian cintai bilamana aku nanti memutuskan untuk menjalani kehidupan rumah tanggaku sendiri.
Duhai Bunda, duhai Ayah, ingatkan anakmu ini yang seringkali lalai. Ingatkan aku jika aku tidak lagi mengindahkan nasehat kalian. Ingatkan aku jika aku lalai berbakti pada kalian. Ingatkan aku jika aku nanti jarang menyambangi kalian.
Dan sungguh, tidak sedikitpun aku bermaksud menyakiti hati dan perasaan kalian jika terkadang aku khilaf. Aku tidak bermaksud melukai kalian ketika aku bersiteguh dengan pendirianku yang berbeda dengan kalian. Tidak pula aku bermaksud durhaka pada kalian. Karena sungguh, aku mencintai kalian.
“Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318)
Kalian menyayangiku, mencintaiku. Kasih sayang orang tua pada anaknya. Dan tahukah kalian bahwasanya kasih sayang Alloh pada hambanya melebihi kasih sayang siapapun pada apapun. Karena Dia-lah Ar Rohim. Yang Maha Penyayang.
Alloh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
”Sesungguhnya Alloh Maha Penyayang padamu” (Q.S An Nisaa’:29)
Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu:
“Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih penyayang daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5999)
Ketika kalian melarangku melakukan sesuatu, tentu itu demi kebaikanku. Ketika kalian memerintahkanku untuk melakukan sesuatu, tentu itu juga untuk kebaikanku.
Maka bagaimana menurut kalian ketika Alloh memerintahkan hambanya untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu? Bukankah itu untuk kebaikan hamba tersebut? Atau untuk kebaikan Alloh sendiri? Seorang hamba-lah yang butuh pada Alloh sedangkan Alloh Maha Berdiri Sendiri.
Alloh Azza wa Jalla berfirman :
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
”Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Q.S Ali Imron : 160)
Aku ingat ketika aku tidak mematuhi kalian masalah isbal. Aku tahu kalian menginginkan agar aku tidak terasing dan diterima kebanyakan orang. Namun tidak semua yang banyak itu benar dan baik. Kebenaran dan kebaikan hanyalah ada pada Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Salafush Sholih.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (Salafush Sholih), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S An Nisaa’:115)
Sedangkan kebanyakan manusia di muka bumi ini hanya berbicara tanpa ilmu. Mengikuti tanpa tahu apa yang diikuti.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا ْ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Al An’aam : 116)
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Q.S Al Baqoroh:147)
Ishbirii ya Ukhti……….
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat.” (Q.S Al Baqoroh : 45)





October 9, 2008 at 9:15 am |
nyuwun sewu, arep tak kutip sebagian olih ora? Jazakallaahu khairan….
October 16, 2008 at 1:19 am |
hmmmm
menarik juga artikelnya…
November 21, 2008 at 9:10 am |
jadi terharu
January 7, 2009 at 7:34 am |
semoga Allah memberkatimu dan melimpahkan rahmatNya buatmu…sy juga mau nanya, kapan nich?
September 2, 2009 at 5:20 pm |
الصحوة…
جزاك الله خير…
September 4, 2009 at 10:49 pm |
احاديث…
……